masihkah...?
sebuah tanya dalam hati.
mencari sebab dari sesuatu yang hilang.
masihkah...?
sebab dekat namun serasa jauh
semakin menepi dari sudut mata
buram
seakan melambaikan tangan
tanda persimpangan
untuk sebuah akhir.
Sabtu, 26 Januari 2013
Minggu, 30 Desember 2012
your girlfriend,my enemy
Keakraban,
kebersamaan, dan semua kenangan itu. Hanyalah masa lalu. Namun, tak terbersit
dalam pikiran sedikitpun akan menjadi malapetaka dalam setiap coretan hidup
saat ini. Sungguh di luar perkiraan.
Dari
awal kejujurannya, menyiratkan keanehan. Cerita tentangnya, tak relevan dengan
sikap dan fakta yang ada. Dia menciptakan dunia dengan konsepnya sendiri,
ditanamkan pada kedua objek yang berbeda. Entah karena dia berada dalam pilihan
yang sulit, ataukah hanya salah satu objek titik pusat ketulusannya berada.
Menerka dengan ribuan hipotesa sekalipun tak mampu memberikan kesimpulan.
Namun,
konsepnya terlalu kuat. Kedua objek berada dalam genggamannya. Setiap objek
diletakkan pada titiknya masing-masing. Dalam porsi yang berbeda tentunya.
Tanpa dia sadari kalau sikapnya akan menyakiti salah satunya. Tentu saja, dua
objek saling bersilangan dengan satu titik pusat. Ketika bergesekan, maka
benturan tak terelakkan.
Sungguh
disesali, dua objek dengan posisi yang berbeda. Mengapa mesti menjadi pilihan.
Toh, masing-masing berada pada jalurnya. Justru yang menjadi pertanyaan, yang
menjadi titik pusat apakah menyediakan ruang masing-masing atau hanya ada satu
ruang untuk keduanya.
Gesekan
demi gesekan terjadi, tak ada titik temu untuk keduanya. Masing-masing memiliki
pendapat sendiri, dan bahkan cenderung saling menjatuhkan.
Hanya
waktu yang dapat mengubahnya...
the magic moment of bazar FLP Maros
Pagi-pagi sudah dipusingkan dengan dana yang minim,
ditambah lagi dengan panitia bazaar yang tak konfirmasi mengenai kupon. Saya
mulai dihinggapi rasa putus asa, menyerah pada keadaan. Saat itu, meski dengan
perasaan yang sudah campur aduk. Satu sisi ingin mensukseskan kegiatan, disisi
lain malah ragu dan tidak percaya pada diri sendiri. Namun, lagi-lagi saya
percaya akan adanya the magic moment disaat-saat genting ketika selalu yakin
disertai niat yang tulus. Ternyata hal demikian terjadi lagi, Allah memudahkan
dengan mengirimkan teman-teman Non-FLP yang notabene memiliki pengetahuan yang
lebih jauh mengenai bazaar. Bahkan mereka rela meluangkan waktunya mengurus
segala sesuatunya tanpa pamrih.
Thanks for fakhira riska, nurjannah darwis, ismha,
lisa…jerih payah kalian tercatat dalam buku sejarah FLP maros. Bazaar warna
warni akhir tahun menjadi penutup tahun yang sangat berkesan dengan warna yang
kalian bawa.
Tak akan pernah tercoret dalam sejarah memoriku
bahkan dalam sejarah FLP, cerita kalian. Teringat moment itu, ada kelucuan
tersendiri. Ketika saya menemani sang koki bazaar (fakhira riska) belanja ke
pasar, serasa belanja yang dibatasi dengan waktu. Saling kejar-kejaran. Maklum
saya jalannya lambat, terpaksa ketinggalan terus. Hal lucu kedua, juga menemani
sang koki belanja. Namun kali ini, harus berhadapan dengan hujan yang cukup
deras. Belum jauh kami meninggalkan pesantren, tiba-tiba butiran Kristal bening
telah menyapu lembut wajah dan sekujur tubuhku. Akhirnya ikha memutuskan untuk
berteduh tepat didepan toserba tak jauh dari pesantren. Sambil menunggu hujan
reda, kami mengintip kedalam box es krim. Nyummmiiii, terlihat sangat
menggiurkan. Sang kokipun mengajak saya untuk membeli, tapi saat itu saya sama
sekali tak membawa uang sepeserpun kecuali dana bazaar. Berusaha menahan rasa
ingin, tapi lagi-lagi ikha mempengaruhi untuk beli. Terpaksa deh beli pinjam
dana bazaar. Eiittsss, jangan salah saya ganti nah.hehehe. kamipun menikmati es
krim rasa coklat di hibur dengan suara gemericik hujan yang begitu
mendayu-dayu…suap demi sesuap akhirnya sebungkus es krim habis kami santap,
tanpa sedikitpun mengingat teman-teman yang sedang sibuk di lokasi bazaar. Saking
menikmatinya, saya tak menyadari jika hujan telah reda. Kamipun melanjutkan
perjalanan ke pasar, tak butuh waktu lama. Kami telah tiba di pasar batangase.
meski hujan, tak menyurutkan semangat dan niatku berbelanja. Demi sebuah
tanggung jawab…
Akhirnya tiba waktu yang kami tunggu-tunggu, tepat
pukul 18.00 satu persatu tamu bazaar berdatangan. Yang kebetulan juga saat itu
dirangkaikan dengan launching buku ‘catatan hati uak’. Hingga diluar dugaan,
kami kewalahan melayani tamu yang melebihi batas perkiraan. Meskipun tak
semaksimal yang kami harapkan, namun kami tetap bersyukur terutama saya secara
pribadi selaku ketua panitia saat itu. Semua bisa berjalan lancar, aman dan
tenang.
Alhamdulillah…
Sabtu, 15 Desember 2012
12-12-12
day was a nightmare for me...12-12-12
Untuk yang pertama kali, dalam alur pertemanan yang
juga bel;um cukup lama.
Hingga
detik ini, meski jauhku bergumul dengan hal-hal lain. Namun, tetap saja
dihantui oleh peristiwa ‘pembunuhan karakter’…seperti itulah saya menyebutnya. Tapi
lagi-lagi, hati ini dengan mudahnya memaafkan. Sedikitpun tak ada dendam, meski
jejak hari itu selamanya akan membekas hingga tarikan nafas terhenti.
Saya tidak
akan mengungkapkan kejadian apa,karena apa,dan siapa…sebab, cukup hari itu saja
yang merekam dan menyimpannya dalam memori lalu ditutup rapat-rapat. Hingga
hari lain tak mampu mengintip atau bahkan mengambilnya.
Dan
dibalik rasa sakit, terselip doa.. semoga hari itu adalah yang terakhir
meletakkan jejak demikian. Biarkan hari yang lain mendapatkan kesempatan
melihat sisi lain dari dirinya. Sisi yang terselimuti kabut tebal dalam balutan
tubuh yang indah. Dan mungkin hanya butuh sentilan tangan-tangan halus, hingga
kabut itu lenyap dan pergi. Menyisakan pelangi menerangi jiwa-jiwa yang
gersang. MasyaAllah…Amin.
Minggu, 09 Desember 2012
dunia aksara
Untuk pertama kalinya aku berkecimpung dalam dunia
di mana kita dituntut bermain dengan kata-kata, merangkainya menjadi sebuah
kalimat yang bernilai indah. Merapat dengan beberapa penulis, mengenal mereka
lewat karya-karyanya. Sungguh sebuah peralihan drastic, mendapati diri yang
tadinya aktif di dunia organisasi politik, berbicara mengenai segala
permasalahan berbau politik. Berkoar-koar dalam forum mengeluarkan aspirasi
menyatukan silang pendapat,kini diri ini tenggelam dalam badai kata, meramu
dalam nurani, memilah setiap kata lalu ditumpahkan di atas kertas kosong
menjadi sebuah tulisan.
Menyusuri langkah para sastrawan, mengukir sejarah
dalam dunia jurnalistik. Yah, tentu saja tak mudah.namun, mengukir hal yang tak
mungkin bisa menjadi mungkin dengan izin Allah. Melalui kemauan,serta tekad
yang tak pernah menyerah untuk selalu belajar,belajar dan belajar. Saat ini,
posisiku dalam dunia aksara masih terbilang amatiran. Aku tak menunggu orang
menilai terlebih dahulu, karena tak naïf. Aku sadar akan hal itu…hehehe. (senyum-senyum
sendiri)
Tapi, sukses adalah pembuktian. So, keep fighting
ajalah…
Orang lain bisa,kenapa aku tidak. Hmm, terdengar
sederhana. Namun memiliki sugesti yang begitu kuat. Itulah kata yang hingga
saat ini membuatku tak pernah menyerah ataupun mengeluh sedikitpun dalam
menjajaki setiap alur yang disediakan Allah sampai tiba waktunya, diri ini
berdiri dititik kesudahan. Dan kata itupula yang membawa diri ini terjun dalam
dunia aksara, dunia yang tak biasa bagiku, namun aku yakin bisa mengubah tak
biasa menjadi luar biasa…AMIN.
Selasa, 20 November 2012
Penat
Beberapa hari ini entah kenapa saya tak dapat mengontrol
emosi, pikiran dipenuhi dengan prasangka. Apa karena suasana yang tak sama lagi
hingga dengan begitu mudahnya menyimpulkan yang belum tentu benar tidaknya. Yah,
mungkin hati ini kesambet kali…kuakui ketika melihat orang lain berada dalam
keadaan yang sama denganku. Saya begitu luwes memberikan saran, bahkan
pandangan-pandangan bijak yang saya sendiri pun kadang bingung dengan apa yang
saya katakan saking bijaknya. Namun, saya tak dapat bijak terhadap diri
sendiri. Selalu saja berbenturan dengan banyak hal. Yang sayapun sendiri tak tahu mengapa.
Bukan saatnya mencari sumber permasalahan, namun saatnya
merenungi, mempertimbangkan tindakan
selanjutnya. Kadangkala terbersit keinginan menjauh dari semua. Menjauh dari
tempat dimana saya berpijak saat ini. Namun disisi lain, sayapun berpikir untuk
apa. Dan apa yang saya ingin cari sampai harus menjauh, bukankah akan sama saja.
Lagi-lagi perang batin terjadi dalam balutan tubuh sendiri. Memandang
jauh kedepan, melangkahkan kaki selangkah demi selangkah mengukir teks kehidupan.
Apakah diri ini kurang bersyukur, ataukah diri ini terlalu dikuasai nafsu
duniawi. Astagfirullah…
Langganan:
Postingan (Atom)